Beberapa Salah Kaprah dalam Ibadah Umroh

Diposting pada

Umroh Desember – Begitu banyak pahala dan keutamaan yang tergantung didalam ibadah umroh supaya para jamaah pun berlomba-lomba jalankan ibadah umroh, bahkan banyak yang tanpa mengerti jalankan hal-hal yang di luar ketentuan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah!

Setelah kami mengerti pengertian umroh dan pernak-perniknya, kami dapat berhati-hati pada terjadinya tidak benar kaprah didalam memaknai serta didalam pelaksanaannya ibadah umroh tersebut. Jangan hingga ibadah umroh kami percuma gara-gara tidak mengerti pengertian umroh bersama dengan baik dan terjerumus didalam tidak benar kaprah atau bid’ah ini.

Beberapa tidak benar kaprah selanjutnya diantaranya adalah:

Salah Kaprah #1: Doa bakal langsung dikabulkan seumpama kami berdoa di seputar Ka’bah.
Hal ini tidak benar gara-gara tidak ada bukti syariat. Meskipun Anda menemukan hadist yang menjelaskan hal ini, maka hadist ini tergolong lemah atau dhaif. Seorang ulama Syaikh Saad Al Humaid berkata bahwa pendapat yang menjelaskan hal selanjutnya tidak benar gara-gara ibadah kudu berdasarkan bukti-bukti yang shahih dan tidak ambigú dan Allah mengerti yang terbaik.

Salah Kaprah #2: Mencium batu Hajar Aswad dan berhenti di pertengahan thawaf.
Momen dapat mencium batu Hajar Aswad adalah sunnah yang indah dan jadi kehormatan bagi orang yang dapat melakukannya. Namun gara-gara banyaknya orang yang mendambakan dapat menciumnya banyak orang yang bahkan tidak dapat menjangkaunya, bahkan sekedar menyentuhnya. Padahal mencium batu Hajar Aswad layaknya ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan para jamaah umroh atau haji yang lain gara-gara kami terpaksa berhenti mendadak di sedang lingkaran jutaan jamaah yang konsisten bergerak. Tidak cuma bakal berjalan tabrakan namun dapat menyebabkan jamaah terdesak dan jatuh diinjak-injak jutaan orang. Rasulullah SAW dan seluruh nabi tidak menyuruh jalankan hal selanjutnya saat berjalan kerumunan jamaah atau didalam keadaan jamaah jumlahnya membludak, namun cuma melambaikan tangan berasal dari  titik berasal dari jauh di luar kerumunan sambil berkata “Allahu Akbar”.

Salah Kaprah #3: Berdoa bersama dengan suara keras dan serempak.
Dalam lebih dari satu kelompok, dapat jadi mereka membaca doa bersama dengan lantang dan bersama-sama. Padahal hal ini dapat menyebabkan jamaah lain tidak khusyuk. Lebih baik seumpama Anda membaca doa bersama dengan suara pelan atau bahkan didalam hati supaya Anda lebih fokus bersama dengan doa yang Anda baca, baik doa didalam bhs Arab atau bhs lain yang Anda pahami. Lebih baik Anda membaca doa yang Anda pahami maknanya daripada tidak. Jangan hingga Anda tidak benar didalam mengucapkan doa gara-gara mengikuti orang lain yang bersuara keras dan lantang.

Salah Kaprah #4: Membaca doa- doa tertentu setiap kali putaran thawaf.
Beberapa orang ada yang membaca doa-doa tertentu di setiap putaran thawaf. Doa yang dibaca pada putaran kesatu, ke-2 dan setelah itu berbeda-beda, bahkan mereka menyebabkan buku anjuran yang kudu dihafalkan oleh jamaah. Padahal hal selanjutnya tidak tercantum didalam syariat. Nabi Muhammad SAW sendiri tidak mencontohkan kepada umatnya untuk membaca doa-doa tertentu di setiap putaran thawaf. Kita boleh membaca doa apa saja yang kami dapat dan hafal. Doa yang nabi baca sepanjang thawaf adalah saat beliau telah hingga di akhir lintasan pada Rukun Yamani dan batu Hajar Aswad,  beliau membaca Rabbanaa aatina fid dunya hasanatan wa fil aakhirati hasanah wa qinaa adzaa bannaar yang bermakna Ya Tuhanku berikanlah saya kebaikan di dunia dan akhirat dan jauhkanlah saya berasal dari api neraka.

Salah Kaprah #5: Menyentuh Ka’bah, Masjidil Haram, atau Masjid Nabawi supaya mendapat berkah.
Banyak orang yang menyentuh Ka’bah atau makam Nabi Ibrahim gara-gara menganggap bakal memperoleh berkah karenanya. Padahal ini tidak benar dan dapat dianggap sebagai musyrik. Karena berkah cuma singgah berasal dari Allah SWT dan syafaat cuma berasal dari Nabi Muhammad SAW lewat amalan ibadah sesuai yang telah contohkan oleh Nabi Muhammad SAW, bukan lewat tindakan menyentuh, mencium bagian-bagian berasal dari Ka’bah layaknya batu Hajar Aswad dan Rukun Yamani serta masjid-masjid layaknya Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Salah Kaprah #6: Melakukan sholat 40 rakaat di Masjid Nabawi Madinah.
Tidak ada kewajiban yang menunjukkan kudu mengerjakan sholat 40 rakaat di area tersebut. Bila Anda dapat melakukannya, tidak apa-apa, gara-gara semakin banyak ibadah yang Anda jalankan Insya Allah bakal memberi tambahan Anda lebih banyak pahala seumpama ikhlas menjalankannya gara-gara Allah dan sesuai bersama dengan syariat. Kalaupun ada hadist yang menjelaskan bahwa bersama dengan jalankan sholat 40 rakaat di Masjid Nabawi bakal terbebas berasal dari api neraka, selamat berasal dari siksaan dan terbebas berasal dari kemunafikan, hadist ini adalah dhaif atau lemah. Tidak dulu ada batasan berapa hari atau jam, jamaah dapat tinggal di masjid tersebut, namun seumpama cuma didalam selagi singkat saja dapat mengunjungi Masjid Nabawi, maka sholat sebanyak rakaat yang dia dapat dan sempat pun tidak apa-apa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *