Teori domino

Diposting pada

Dominoqq – Teori domino adalah teori yang berspekulasi bahwa andaikata sebuah negara di suatu kawasan terkena pengaruh komunisme, negara-negara sekitarnya dapat ikut terpengaruh komunisme lewat pengaruh domino. Teori yang kerap didengungkan terhadap tahun 1950-an sampai 1980-an ini digunakan oleh beberapa presiden Amerika Serikat semasa Perang Dingin sebagai alasan intervensi A.S. di semua dunia.

Meski tidak pernah menggunakan arti “teori domino” secara langsung, Presiden Amerika Serikat Dwight D. Eisenhower menjelaskannya di dalam sebuah konferensi pers tanggal 7 April 1954 pas mengkaji komunisme di Indocina:

Nah, Anda mempunyai suatu pertimbangan yang ikuti prinsip “domino jatuh”. Anda mempunyai satu baris domino. Jatuhkan domino pertama, dan yang dapat terjadi sampai domino terakhir adalah kronologis moment yang terjadi benar-benar cepat. Anda dapat menyaksikan sebuah perpecahan yang pengaruhnya benar-benar besar.

Daftar isi

Penerapan di luar Asia Tenggara

Michael Lind berpendapat bahwa meski teori domino gagal di Asia Tenggara, terlihat gelombang rezim komunis atau Marxis–Leninis world di Benin, Ethiopia, Guinea-Bissau, Madagaskar, Tanjung Verde, Mozambik, Angola, Afghanistan, Grenada, dan Nikaraguapada tahun 1970-an. Interpretasi pengaruh domino world benar-benar bergantung terhadap interpretasi “prestis” di dalam teori ini, artinya keberhasilan revolusi komunis di sejumlah negara ikut berkontribusi terhadap moral dan bantuan retoris kendati tidak membuahkan bantuan material untuk mendukung pasukan revolusi di negara-negara lain.

Revolusioner Argentina Che Guevara pernah menulis sebuah esai berjudul “Pesan Untuk Tiga Benua” terhadap tahun 1967. Esai ini menyuarakan terbentuknya “dua, tiga, … banyak Vietnam” di semua dunia. Sejarawan Max Boot menulis, “Pada akhir 1970-an, musuh-musuh Amerika Serikat naik ke tampuk kekuasaan di sejumlah negara dari Mozambik sampai Iran sampai Nikaragua. Sandera A.S. ditangkap di kapal SS Mayaguez (lepas pantai Kamboja) dan Tehran. Pasukan Merah menyerbu Afghanistan. Tidak ada jalinan yang mengerti bersama Perang Vietnam, tetapi ada sedikit keraguan bahwa kekalahan sebuah kapabilitas super dapat mendorong musuh-musuh kami untuk melancarkan agresi yang sebelumnya enggan dilakukan.”

Selain itu, teori ini bisa didorong lebih jauh sehabis meningkatnya kuantitas serangan oleh group teroris sayap kiri di Eropa Barat yang didanai oleh pemerintah negara-negara komunis antara tahun 1960-an dan 1980-an. Di Italia, serangan berikut meliputi penculikan dan pembunuhan mantan Perdana Menteri Italia Aldo Moro dan penculikan mantan Brigadir Jenderal A.S. James L. Dozier oleh Brigade Merah.

Di Jerman Barat, serangan teroris dilancarkan oleh Faksi Pasukan Merah. Di Timur Jauh, Pasukan Merah Jepang melancarkan serangan serupa.

Dalam wawancara Frost/Nixon tahun 1977, Richard Nixon menjaga destabilisasi rezim Salvador Allende di Chili oleh Amerika Serikat bersama alasan teori domino. Meminjam metafora yang ia dengar, ia tunjukkan bahwa Chili dan Kuba yang komunis dapat menciptakan “roti lapis merah” yang bisa menggencet Amerika Latin.[7] Pada 1980-an, teori domino digunakan untuk membenarkan intervensi pemerintahan Reagan di Amerika Tengah dan kawasan Karibia.

Dalam memoarnya, mantan Perdana Menteri Rhodesia Ian Smith menyebut kebangkitan pemerintahan sayap kiri otoriter di Afrika Sub-Sahara terhadap era dekolonisasi sebagai “taktik domino kaum komunis”. Menurut Smith, pembentukan pemerintahan pro-komunis di Tanzania (1961–64) dan Zambia (1964) dan pemerintahan Marxis–Leninis di Angola (1975), Mozambik (1975), dan Rhodesia (1980) merupakan bukti “penggerogotan diam-diam imperialisme Soviet di benua ini.”

Penerapan lain

Kartun politik Carlos Latuff yang menyamakan teori domino dengan Musim Semi Arab.
Sejumlah analis kebijakan luar negeri di Amerika Serikat menyebut penyebaran teokrasi Islam dan demokrasiliberal di Timur Tengah sebagai dua kemungkinan adanya teori domino. Pada era Perang Iran–Irak, Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya mendukung Irak sebab risau teokrasi radikal Iran dapat menyebar di Timur Tengah. Semasa invasi Irak 2003, sejumlah kaum neokonservatif berpendapat bahwa andaikata pemerintahan demokratis dibentuk di Irak, demokrasi dan liberalisme dapat menyebar di Timur Tengah. Ini disebut-sebut sebagai “teori domino terbalik” sebab efeknya diakui positif oleh Barat, bukan negatif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *