Europalia Berpeluang Tingkatkan Karir Seniman Indonesia

Europalia Berpeluang Tingkatkan Karir Seniman Indonesia

Diposting pada

Kebudayaan Nasional Indonesia menjadi bintang dalam festival seni budaya Europalia 2017. Selama empat bulan, sebanyak 486 seniman dan budayawan Indonesia unjuk kebolehan di tujuh negara Eropa dalam festival tersebut. Melalui festival ini para seniman Indonesia yang tampil dalam ajang tersebut berpeluang dikenal di kancah internasional dan dapat melebarkan sayap karirnya.

Europalia Berpeluang Tingkatkan Karir Seniman Indonesia

Setidaknya ada tiga manfaat yang dapat diambil dari ikutsertaan Indonesia dalam ajang bergengsi festival seni budaya Europalia 2017. Pertama, memperkenalkan dan menunjukkan Indonesia melalui sisi yang berbeda, yaitu melalui seni dan budaya. Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Faridl menuturkan, mengenalkan suatu negara dapat lebih efektif melalui media seni dan budaya.

Masyarakat internasional dapat menilai, Indonesia dengan penduduk mayoritas beragama Islam, namun dapat menampilkan ekspresi seni dan budaya yang sangat beragam. Kedua, kehadiran Indonesia dalam festival seni Europalia juga sebenarnya turut berkontribusi terhadap upaya penanganan masalah-masalah global. Seperti diketahui, sepanjang 2017 terjadi sejumlah konflik antarnegara dan adanya gelombang imigrasi ke Benua Eropa yang akibatnya terjadi ketegangan dan ketakutan berlebih di antara penduduk Eropa. “Kehadiran Indonesia menjadi KEBUDAYAAN perbincangan di kalangan masyarakat Eropa, di mana Indonesia dengan masyarakat yang begitu beragam, namun dapat hidup berdampingan dengan damai.

Sementara di belahan dunia lain, masalah terkait keberagaman itu muncul dan menimbulkan persoalan. Hal ini yang bisa dipelajari juga oleh masyarakat dunia,” ungkap Hilmar. Ketiga, meningkatkan peluang karir seniman Indonesia yang berkelanjutan, sehingga meningkatkan kesejahteraan seniman Indonesia. Karena selama ini pemerintah sebenarnya telah banyak mengirimkan seniman ke luar negeri secara sporadis. Namun dampak pengiriman seniman ke luar negeri secara sporadis ini tidak memberikan dampak seperti yang diinginkan. Artinya, setelah kembali ke tanah air, tidak ada tawaran berkelanjutan, sehingga karir seniman tidak juga berkembang. Selain itu, kondisi seniman masih belum banyak dikenal di dunia.

Dengan kehadiran mereka di ajang ini, akan menunjukkan tingkat prestasi mereka. Selama Europalia berlangsung , seniman tidak hanya menunjukkan keahliannya tampil dalam seni pertunjukkan, tetapi juga berdiskusi secara langsung, baik dengan pengunjung maupun kurator, serta pemilik venue maupun agen pertunjukan yang hadir. “Di sana seniman bertemu kurator, pemilik venue dan tak sedikit dari mereka yang langsung mengajak bekerja bersama seniman kita. Oleh karena itu festival ini membuka jalan bagi mereka untuk meningkat karirnya dan membuat seni menjadi lebih hidup,” ujar Hilmar.

Ramai Pengunjung
Keragaman seni budaya Indonesia yang ditampilkan banyak menarik perhatian pengunjung. Ini terlihat dari pengunjung pameran di Brussel yang dalam satu harinya mencapai 60-90 rombongan. Tidak hanya itu, saat melakukan dialog jarak jauh secara daring yang digelar dari Museum La Boverie Liege dengan bengkel pembuatan kapal pinisi di Tanah Beru, jumlah penonton siaran tersebut mencapai 1.500 orang. Pihaknya yakin target 1 juta pengunjung dan penonton Europalia dapat tercapai jika dilihat dari antusiasme masyarakat Eropa terhadap seni dan budaya Indonesia yang ditampilkan. Setidaknya selama empat bulan tampil dalam Europalia, Indonesia menghadirkan lebih dari 240 agenda seni dan budaya. Hilmar mengatakan setelah kegiatan ini, Kemendikbud akan mengundang seniman yang terlibat untuk berdiskusi. Dalam diskusi tersebut, seniman melaporkan apa saja yang telah mereka kerjakan dan dapatkan selama berada di sana.

Kemudian dilakukan evaluasi agar penyelenggaraan ajang serupa ke depan semakin baik. Selain itu, tahun 2018, Kemendikbud akan menggelar kegiatan bertajuk Indonesiana. Indonesiana merupakan program lanjutan dari Europalia di mana Indonesia menjadi tuan rumah dalam kegiatan festival seni budaya. Kemendikbud bekerjasama dengan 10 pemerintah daerah dengan tema tertentu agar kegiatan bisa berjalan dengan lancar, baik terkait dengan seni yang akan dipertunjukkan, persiapan tempat, dan anggaran yang rencananya akan mencari sponsor dari asuransi pendidikan anak yang bagus. “Ada beberapa pemerintah daerah yang telah menyatakan kesiapannya, seperti Solo akan menjadi pusat gamelan, Yogyakarta menjadi pusat panahan tradisional (Jempalingan), Toba menjadi pusat tenun, Bali menjadi pusat pengetahuan tradisional, Tidore menjadi pusat ilmu kebal, dan Sumatera Barat menjadi pusat silat,” pungkas Hilmar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *